Ini pengalaman nyata, yang aku alami sendiri. Kapan kejadian tepatnya, aku dah lupa, yang pasti kejadiannya inget terus di hati. Ceritanya gini ...
Pada suatu sore, aku mampir ke salah satu toko buku di Kudus, deket alun-alun Simpang 7. Waktu parkir di depan toko itu, tiba-tiba ada seorang anak muda yang mendekat dan minta uang. Refleks, aku rogoh saku celana, berharap ada receh di situ. Ada, 200 rupiah! Aku berikan langsung ke anak itu, gak masalah buat aku. Masalahnya timbul setelah itu, ketika anak muda itu minta 1000 rupiah. Seketika alisku berkerut melihat anak itu, kuperhatiin dari atas sampai bawah. Dengan wajah yang (maaf) cukup menakutkan juga, pake anting-anting sebelah, pipi gak ada karena bekas jerawat dan sayatan kecil-kecil, celana jeans sedengkul, dan mata memerah. dan kuping sebelah kanan ato kiri lupa, agak robek. Cukup membuat orang berpikir 2 kali, siapakah anak muda ini? Apa maksudnya minta-minta uang? paling-paling cuma buat mabuk doang, begitu pikiranku. Dengan tegas aku tolak, "Gak ada mas!" sambil melotot.
Anak itu kemudian mundur, dan duduk di emper toko, sambil matanya mengawasi aku.
Terus aku masuk toko, setelah sepeda motor aku kunci.
Pada penjaga toko, aku bilang, "Mas, tolong saya komplain tentang parkiran ini, saya dimintai uang secara paksa oleh anak muda itu."
"Ya nanti kami urus pak." sahut penjaga toko.
Setelah urusan selesai, aku pulang, anak muda itu sudah tidak ada disana.
Esok harinya, aku dapet tugas ke Semarang, mengantar surat ke BKD Propinsi kalo gak salah. Aku naik bis ke Semarang, dan setelah tugas selesai aku laksanakan, aku pergi ke Gramedia Pandanaran, sekedar liat-liat buku dan kalo ada yang bagus, aku beli. (Aku kutu buku banget dari kecil :-) ). Iseng aku mampir ke konter alat-alat olahraga, dan mencoba salah satu alat olahraga yang digenggam.
"Ini bagus juga, pikirku". Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba alat tersebut terlepas dari genggamanku, jatuh ke bawah. "PECAH!" . "Oh SHIT!"
Dengan berat hati, alat itu harus aku ganti. Rp 50.000,- bayangin! Apes banget .... :-(
Dalam perjalanan pulang, aku mikir, apa yang jadi penyebab aku kehilangan uang segitu? Padahal biasanya aku selalu dapet rejeki, sering dari arah yang tak terduga sebelumnya.
Ya Allah, ada apa ini? terus berpikir, sampai tiba-tiba, dalam hati timbul pertanyaan, apa gara-gara kemaren aku gak mau sedekah pada anak muda itu?
Astaghfirullah .... mungkin ini hukuman dari Allah yang harus aku terima. Aku gak bisa berbuat apa-apa. Sambil terus istighfar, aku inget-inget semua kejadian itu..
Sampai di Kudus, sengaja aku lewat alun-alun, berharap bertemu anak muda itu untuk minta maaf, dan memberi apa yang dia mau. Tapi anak muda gak pernah ada lagi muncul di hadapanku. Penyesalan yang terlambat, pikirku.
Sampai di rumah, aku ceritain ke istri, tentang peristiwa yang aku alami kemaren dan hari ini. Istriku nasehatin, kalo ada seperti itu lagi, mending kita kasih aja apa yang dimaui, sepanjang kita mampu. Aku setuju.
Dan sejak saat itu, kesadaran baru menyeruak, bahwa dimanapun kita berada dan kita mampu memberi, maka berikanlah. Apapun yang kita punya, baik harta, tenaga, atau ilmu yang kita punyai.
Aku gak pernah lagi bertemu anak muda itu, dan setiap aku ingat peristiwa itu, yang bisa aku ucapkan hanya istighfar dan istighfar, moga Allah mengampuni kesalahan yang telah aku perbuat. Amin...
Monday, March 3, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment